21 Jun 18 13:16 PM

EDISI LXVI 2017 BUDAYA

Menyibak Aura Mistis dan Eksotis Atap Sai Bumi Rua Jurai

Gunung Pesagi, gunung tertinggi dari 12 Gunung di provinsi Lampung. Tingginya 2.262 MDPL (Meter Diatas Permukaan Laut). Gunung Pesagi terletak di Kecamatan Balik Liwa, kota Liwa, Kabupaten Lampung Barat.

Jika ingin mendaki Gunung Pesagi, ada dua jalur pendakian, pertama rute dari Pekon Bahway, dan rute kedua dari Pekon Hujung. Kedua rute pendakian tersebut membutuhkan waktu 12 jam perjalanan, untuk sampai ke puncak Gunung Pesagi.

Jika mendaki pada musim penghujan waktu tempuh bisa bertambah, karena sulitnya medan saat turun hujan. Tanah menjadi lunak dan cenderung berlumpur, membuat perjalanan terganggu dan lambat.

Puncak tertinggi di tanah Sai Bumi Dua Jurai ini menyajikan pemandangan eksotis, dari puncak bisa terlihat permukaan air menutupi danau ranau, pemukiman masyarakat, hingga laut ada di tepi wilayah Krui dan Belimbing.

Keindahan dan keaslian alam di sekitar Gunung Pesagi masih terjaga hal ini merupakan suatu daya tarik tersendiri bagi pecinta alam dan wisatawan yang suka tantangan menaklukkan gunung ini yang masih dipercaya masyarakat sekitar penuh dengan aroma mistis.

Keistimewaan puncak Gunung Pesagi memiliki jalur pendakian yang menantang, sepanjang jalur yang dilalui kita dapat menikmati keindahan bunga anggrek yang beranekaragam serta beberapa satwa liar, namun bagi para pendaki dilarang untuk memetik maupun berburu satwa yang ada di kawasan tersebut.

Ada beberapa jalur pendakian untuk menuju Gunung Pesagi tersebut dapat menggunakan beberapa jalur yaitu: Jalur pertama desa Bahway dusun Way Pematu, Pos 1 jalur pertama disebut “jalur patah hati “ jalan menuju pos 2 merupakan jalur pemukiman penduduk desa Bahway. Jalur ini berupa jalan batu landai dengan panorama pemandangan alam desa yang khas. Karena dikanan kirinya terdapat aliran sungai, areal persawahan dan perumahan tradisional masyarakat Desa Bahway. Waktu tempuh menuju pos 2 sekitar 1,5 jam.

Dari pos 2 menuju pos 3, jalur cukup berat. pendaki melewati sungai dan melewati sedikit perkebunan kopi, menjumpai sungai aliran deras. Pendaki atauwisatawan agar berhati-hati dan mempersiapkan perlengkapan untuk keamanan.

Dalam perjalanan ke pos ke 3 akan menemui pintu rimba Gunung Pesagi, di tandai dengan dua buah pohon besar menjulang tinggi di kiri kanan jalur, namun saat ini kedua pohon tersebut tidak dapat di temui lagi karena sudah tumbang. Setelah memasuki pintu tersebut jalur menuju pos 3 berupa tanjakan yang panjang dan licin waktu tempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam.

Pada jalur pos 4 ini pendaki menjumpai tanaman angrek macan yang indah sepanjang jalur ini. Tanaman ini khas dengan batangnya yang mempunyai bercak hitam putih menyerupai macan.

Selain itu pendaki juga akan menjumpai tanaman kantong semar yang banyak di temukan sampai kepos puncak. Tetapi ingat jangan sampai kita mengambil ataupun kita mengambil atau pun merusak tumbuhan tersebut. Vegetasi hutan semakin rapat dengan tanaman pakis rotan yang masih setia tumbuh dengan subur.

Untuk menuju dari pos 4 kepos 5 butuh waktu tempuh 1 jam. Jalur pos antara 4 dan 5 ini termasuk kategori berbahaya. Pada jalur ini pendaki akan menikmati jalur yang mulai pindah punggung gunung dari punggung satu kepunggung lainnya, sesuai dengan nama gunung yaitu Gunung Pesagi karena gunung ini berbentuk persegi yang menciptakan banyak punggungan dan diantara punggungan adalah lembah sehingga dituntut sangat waspada karena terdapat jurang.

Di jalur pos 5 dan 6 ini adalah merupakan puncak atau jalur yang paling ekstrim karena pada jalur inlah asal muasal” jalur patah hati” dan beranjak dari pos 5 menuju pos 6 atau air terjun Badas Gumpalan maka harus sedikit memutar dengan tanjakan terjal guna menghindari air terjun, kemudian disuguhi sedikit susur sungai dengan kondisi cukup landai atau yang sering disebut “Bonus”.

Belum selesai menikmati jalur Bonus kembali dihadirkan jalur menanjak mencapai 40-50 derajat yang terkadang memaksa pendaki untuk merayap , dipos inilah terdapat pohon “tas” yang konon menurut kepercayaan penduduk sekitarnya hanya ada di Gunung Pesagi dan tidak terdapat di daerah lain serta di percaya mampu mengusir mahluk gaib, mengusir ular dan membawa keberuntungan.

Tetapi perjuangan tersebut tidak akan sia-sia karena view indah tersaji disinilah mata akan dimanjakan pemandangan yang memukau , kemudian terdapat puncak yang memukau tampak juga puncak Gunung Pesagi dan di belakang nya adalah ujung tanjung .

pada ujung tanjung terdapat puncak tetapi lebih rendah dari puncak pesagi . Para pendaki tidak melewati puncak ujung tanjung karena jalurnya berbeda pada puncak tersebut terdapat susunan batu-batu besar yang tersusun rapi bagaikan areal sholat dengan Batu yang menyusun laksana ruangan Imam saat sholat dan batu susunan lainya membentuk saf sebagai jamaahnya oleh karena itu disebut “Batu Masjid”.

Setelah pendaki menikmati pemandangan yang indah, kini harus mempersiapkan atau menyonsong sebuah tanjakan terakhir dan terekstrim . setelah melewati jalur tersebut tibalah dipuncak Gunung Pesagi . puncak pesagi menurut masyarakat Lampung Barat kerap disebut sebagai “Tangga Langit” karena disinilah masyarakat lebih abdol jika memanjatkan doa.

Selain jalur desa bahway atau disebut jalur patah hati masih ada jalur lain yang bisa di lewati untuk menuju pouncak Gunung Pesagi tersebut yaitu Dusun Ramuan yang merupakan jalur pertama atau pos 1 yaitu Pintu Rimba yang merupakan areal perkebunan kopi penduduk setelah sebelumya akan melewati perumahan penduduk.

Kemudian setelah pintu Rimba pendaki akan melewati jalur menuju Gisting jalur ini sedikit menanjak tetapi cukup panjang. Di tempat ini terdapatsumber air yang tidak pernah kering meskipun saat musim kemarau, karena berasal dari aliran sungai yang melewati celah-celah batu yang mengalir dan tertampung dalam cekukan batu yang terdapat di sekitar sumber air. Jarak tempuh jalur ini sekitar 2,5 jam perjalanan standar.

Beranjak dari Gisting langsung menikmati super tanjakan untuk mencapai batu pipih, batu pipih adalah adalah batu yang berbentuk pipih yang berdekatan dengan ukuran yang cukup lebar , panoroma batu pipih ini sangat indah karena disini dapat melihat jalur ujung tanjung dan deretan batu besar yang berdiri tegak menopang puncak Gunung Pesagi dan jika terkena cahaya bagai kilau mutiara.

Jalur penyambung adalah jalur susunan batu bertingkat yang direkatkan secara alami aleh lapisan tanah membentuk sebuah tebing . penyambungan ini juga dinamakan jembatan Sirotol Mustaqim karakter ini tidak akan ditemui kemiripanya pada gunung-gunung lainya.

Setelah jalur penyambung tibalah ke puncak pesagi dan di puncak pesagi ini akan menyaksikan indahnya liukan Danau Ranau ,Pemukiman Penduduk OKU, Laut Lepas Krui, dan laut lepas Belimbing, selain itu dapat dijumpai juga tugu peninggalan Belanda dan merupakan tanda batas kekuasaan Belanda kala itu, Sumber Mata Air Tujuh yang terletak sekitar 20 M tutun sedikit dari puncak.
 
Menurut cerita rakyat hanya orang beruntung yang dapat menemukan dan mengambil air di sumur tujuh tersebut dan bagi yang tidak beruntung sumur tujuh tersebut akan kering dan tidak terdapat air. Dan selain sumur tjuh terdapat juga “Pancuran Mas” sumber mata air yang tidak pernah kering tapi cukup sulit mencapainya karena terjalnya dan curamnya jalur, dan butuh waktu -+30 menit dari puncak menuju Pancuran Mas.

Jalur lain yang dapat di tempuh menuju puncak pesagi ada jalur lain yaitu jalur desa hujung simpang lua. Pada jalur ini cenderung lebih mudah untuk menjangkau puncak pesagi . namun relatif tidak menemukan pemandangan yang indah sepanjang perjalanan dan bisa di tempuh kurun waktu 5 jam.

Dari ketiga jalur tersebut anda bisa memilih kira-kira jalur mana yang akan ditempuh dengan kondisi jalur dan tantangan yang ada dan juga keindahan alam yang dapat dijumpai dalam setiap perjalanan menuju puncak Gunung Pesagi

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh para ahli arkeologi kita, gunung Pesagi merupakan tempat dimana Paksi Sekala Brak pernah berdiri. Paksi Sekala Brak adalah kerajaan asli dari Lampung. Penduduk yang berada dibawah kekuasaan Paksi Sekala Brak inilah yang merupakan nenek moyang dari etnis asli Lampung.

Berdasarkan penelitian itu juga diketahui bahwa Paksi Sekala Brak pernah berdiri dalam dua era yang berbeda. Era pertama, yaitu pada saat datangnya pengaruh Hindu dan Budha kedalam lingkungan Paksi Sekala Brak.

Sementara era termuda adalah ketika Islam masuk ke kerajaan yang ada di Lampung ini dan menjadikan Paksi Sekala Brak sebagai bagian dari Kesultanan Nusantara yang salah satu daerah kekuasannya adalah Indonesia.

Biasanya ketika pemimpin dari suatu kerajaan memeluk agama tertentu, maka rakyatnya pun akan mengikuti pemimpinnya. Pola seperti terjadi tidak hanya pada Paksi Sekala Brak saja, namun juga terjadi pada banyak kerajaan di Nusantara.

Catatan mengenai Paksi Sekala Brak bisa ditemukan dalam catatan I Ching (I Ching), seorang Biksu Budha dari Tiongkok yang melakukan perjalanan melanglang dunia, menyebut penduduk Paksi Sekala Brak Dengan sebutan To-Langpohwang.

Dalam bahasa Hokkian, kata To-Langpohwang itu sendiri berarti “orang atas” yang menunjukkan penduduk yang tinggal di wilayah kerajaan yang berdiri diatas gunung Pesagi. Para raja dari Paksi Sekala Brak mempunyai keturunan yang masih hidup hingga sekarang.

Berdasarkan cerita dari masyarakat setempat terdapat tujuh buah sumur yang terletak diatas puncak Gunung Pesagi. Salah satu dari ketujuh sumur tersebut ada yang bisa mengeluarkan aroma harum. Tidak semua orang bisa melihat sumur tersebut meskipun berhasil mencapai puncak gunung Pesagi.

Hanya mereka yang mempunyai hati yang bersih yang bisa menemuinya. Konon katanya bila anda datang dengan niat yang baik, maka akan bisa melihat sumur tersebut dan meminum airnya. Anda boleh percaya atau tidak dengan cerita ini.

Ada beberapa pantangan yang harus dipenuhi ketika mendaki gunung Pesagi. Misalnya dilarang memetik dan mengambil bunga yang ditemui disepanjang perjalanan menuju puncak kecuali untuk keperluan yang dibenarkan. Ada berbagai jenis tanaman yang bisa anda temui disepanjang perjalanan, seperti bunga Anggrek yang tumbuh liar di hutan gunung Pesagi.

Satu lagi pantangan ketika berada di hutan gunung Pesagi adalah dilarang berburu binatang liar. Meskipun anda tidak mempercaya cerita yang berkembang ditengah masyarakat sekitar mengenai gunung Pesagi, sebaiknya tetap mengikuti pantangan yang diberikan. Karena dengan menjaga tanaman dan hewan, anda juga turut dalam upaya pelestarian alam yang tinggal di hutan gunung Pesagi. (dari berbagai sumber)